Tulisan ini dibuat bukan untuk mencoreng hidup liberal Negara Belanda, namun untuk meng-highlight hidup dalam ragam warna. Kebebasan yang bertanggung jawab. Liberalisme dan Pluralisme ala Negeri Tulip.
Berbicara masalah liberalisme dan pluralisme, mungkin semua mata tertuju pada Negara Amerika Serikat. Namun, kali ini, saya ingin melihat perspektif lain, perspektif kemajemukan Negeri Tulip.

Ragam warna tulip di Keukenhof
Tidak asing lagi, jika kita berbicara tentang negeri yang satu ini. Negeri Kincinr Angin, Negeri Tulip. Belanda. Negara Belanda adalah negara kecil, namun tidak mengurangi semangat menjadi pioneer dalam berbagai bidang.
Liberalisme dan Pluralisme.
Liberalisme merupaka cara pandang yang bersandar pada paham kebebaan dan persamaan hak. Sedangkan Pluralisme merupakan sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain.
Katya Tomasini Abstract art Leisure Contemporary Art Pluralism
Dalam hal ini, Belanda memang mengundang decak kagum sekaligus kritik pedas terhadap sikap keterbukaannya. Latar belakang masyarakat Belanda sangat beragam, mulai dari etnis, agama, dan cara pandang. Orang Belanda berpikiran terbuka dan pragmatis. Keterbukaan masyarakat Belanda mengundang banyak imigran datang ke sana, maka tidak mengherankan kalau akulturasi budaya di Belanda sangatlah kental, hampir 50% penduduk Belanda memiliki darah selain darah Belanda.
Lebih dari 30% penduduk Belanda tidak beragama. Bagi kalangan ini ‘perbuatan baik’ lebih penting ketimbang beragama tapi tak beriman dan tidak diamalkan. Iman dan agama menjadi urusan yang sangat prinsipil. Tidak berpusat pada diri sendiri, pusatnya ialah orang lain. Bagaimana menghargai orang lain dan mencintai orang lain.
Belanda dikenal akan sikap tolerannya terhadap aborsi, eutanasia dan penggunaan obat-obatan (jenis tertentu). Pada tahun 2000, prostitusi secara resmi diakui sebagai sebuah profesi legal dan dibebankan pajak. Tahun 2001, pemerintah Belanda secara resmi melegalkan pernikahan sesama jenis. Dan pada tahun 2009, Pemerintah mengizinkan pasangan sesama jenis untuk mengadopsi anak dengan alasan dewasa ini kebutuhan masyarakat sudah bergeser dan mereka menghargai kebutuhan itu. Di berbagai tempat umum tersedia prasarana memadai, misalnya ruang khusus untuk orang-orang berkebutuhan khusus seperti ruang bagi pengguna kursi roda.
Upaya Belanda dengan melegalkan beberapa hal yang masih tabu di banyak negara ini, tidak lain untuk menghargai hak dan pendapat mereka yang dikucilkan, termarginalkan. Dan memang, dengan kedewasaan berpikir dan tanggung jawab yang tinggi, kebebasan di Belanda tidak disalahgunakan. Rintangan untuk hidup dalam kemajemukan sangatlah berat, tidak jarang juga dijumpai konflik dan gesekan. Namun, kembali lagi pada nilai sejati yang ada pada keterbukaan, terbuka dengan perbedaan, terbuka terhadap kritik yang membangun. Inilah Liberalisme dan Pluralisme ala Negeri Tulip.
Terlepas dari pro-kontra kebebasan di Belanda, kehidupan yang majemuk tumbuh subur di Belanda seperti bunga tulip yang tumbuh subur dengan warna-warnanya yang beraneka ragam. Dengan semakin banyak perbedaan, masyarakat dituntut lebih dewasa dalam pola pikir dan pola pandang. Kedewasaan dan tanggungjawab menjadi kata kunci. Perbedaan menjadi warna yang memberi nuansa keindahan seperti bunga tulip. Perbedaan menjadi unsur konstruktif dan bukan sebaliknya.
Ragam warna tulip di Keukenhof
Kincir angin, sepatu kayu, dan, bunga tulip…
Belanda menawarkan lebih dari itu. Negeri bawah laut ini patut berbangga dengan predikat negeri bunga tulipnya. Artikel ini akan membahas seulas tentang Belanda dan juga tentang Rotterdam pada khususnya.
Belanda adalah salah satu negara kecil di Eropa yang termasuk salah satu negara dengan perekonomian dan rata kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Belanda terkenal dengan sektor agrarisnya, sektor industri (Phillips, Ahold, dan Unilever merupakan blue chip industri di Belanda), dan sektor maritimnya.
Secara geografis, Belanda mempunyai empat musim (salju, semi, panas, dan gugur). Berada di ujung Barat Eropa dan mempunyai ketinggian di bawah laut, Belanda juga terkenal mempunyai cuaca yang berubah ubah. Kedua terburuk setelah Inggris. Dalam satu hari, cuaca dapat berubah dari hujan, panas, berangin, sampai salju! Hal yang normal terjadi di Belanda dan banyak membuat kita, pelajar Indonesia, frustasi bagaimana harus memakai baju yang tepat. Buruknya cuaca ini tersebar di seluruh kota di Belanda, termasuk Rotterdam.
Kincir angin, sepatu kayu, dam, bunga tulip, dan keju memang merupakan icon terkenal sebagai simbol dari Belanda. Namun, sebenarnya tidak banyak juga tersisa kincir angin, dan orang-orang yang memakai sepatu kayu. Apalagi untuk Rotterdam yang merupakan kota besar Belanda. Bunga tulip menjadi icon penting selama musim semi dan panas.
Belanda semakin mengukuhkan diri sebagai negara kecil yang multikultural. Hal ini dikarenakan banyaknya ekspatriat yang bekerja atau bersekolah di Belanda. Utamanya Rotterdam, 70% penduduk Rotterdam adalah pendatang yang berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia (tentu saja!), Turky, Maroko, Surinaam, Afrika, Amerika, dan negara Eropa lainnya. Masyarakat di Rotterdam cenderung sangat toleran terhadap perbedaan budaya. Masyarakat Rotterdam sudah terbiasa akan hidup berdampingan dengan berbagai macam karakter dan budaya. Faktor ini dipengaruhi oleh usaha pemerintah Rotterdam yang akitif menyelenggarakan acara kota untuk masyarakat umum seperti Dance Festival, Museum Day, atau Erwtensoep Day!
Tradisi
Salah satu perayaan-perayaan yang yang paling khas dalam negeri Belanda adalah pesta Sint Nicolaas atau Sinterklaas. Dirayakan di malam sebelum Sinterklaas' hari ulang tahun pada 5 Desember, khususnya di dalam keluarga-keluarga dengan anak-anak kecil. Di Amerika Serikat angka asli Dutch Sinterklaas telah menyatu dengan Father Christmas ke Sinterklas. Dalam negeri Belanda, hadiah membawa Natal pada telah baru-baru ini memperoleh beberapa popularitas juga , tetapi Sinterklaas jauh lebih populer.
Lain perayaan khas dalam negeri Belanda adalah pesta Sint Maarten. Hari itu dirayakan pada malam hari 11 November dalam beberapa bagian negeri Belanda. Anak-anak berlalu pintu-pintu dengan lentera-lentera kertas dan lilin-lilin, dan menyanyikan lagu tentang St. Martin dan tentang lentera mereka sebagai penukar suguhan. Dalam beberapa daerah lampion digantikan oleh diri membuat lentera, terbuat satu mengorek bit gula (suikerbiet).
Tarian di Belanda.
balet Pada abad ke-21 orang dengan latar belakang Timur Tengah atau Afrika juga memiliki efek mendalam, terutama dalam hip hop dan rap. Jauh lebih daripada kebanyakan non-Inggris negara Eropa berbahasa, Belanda tetap erat selaras dengan tren Amerika dan Inggris sejak 50-an.
Aruba dan lima pulau utama Belanda Antillen adalah bagian dari rantai Lesser Antilles pulau. Musik mereka adalah campuran dari unsur-unsur asli, Afrika dan Belanda, dan berhubungan erat dengan tren dari pulau-pulau tetangga seperti Barbados, Martinique, Trinidad dan Tobago dan Guadeloupe, serta kepemilikan Belanda daratan mantan Suriname, yang telah diekspor ke musik kaseko sukses besar di pulau-pulau. Curaçao dan Bonaire cenderung memiliki adegan musik yang paling aktif dan terkenal. Curaçao dikenal untuk jenis musik yang disebut tumba, yang dinamai drum conga yang menyertainya.
Keseharian
Budaya Barat khususnya Belanda akan sangat terasa bedanya Terutama bagi kita yang belum terbiasa hidup di luar negeri, banyak orang yang mengalami culture shock setelah tinggal di Belanda selama beberapa bulan. Namun hal itu dapat dihindari jika kita sudah mengetahui budaya dasar dan kebiasaan masyarakat Belanda.
Secara umum, karakteristik orang Belanda adalah:
· “Straightforward”: mereka tidak sungkan-sungkan mengatakan opininya.
· Kritis akan keadaan sekitar: cenderung suka komplain.
· Suka membantu: apalagi untuk pelajar. Mereka tidak ragu untuk membantu kita, pelajar internasional untuk beradaptasi disini.
· Cenderung tertutup (tidak ekstrovert): kecuali jika kita sudah kenal dekat dengan mereka. Jangan salah artikan jika mereka terkesan tidak ramah dengan kita
· Individualistis: berbeda dengan budaya Indonesia yang cenderung ’keroyokan’.
· Optimis dan pekerja keras: selalu mengutamakan persaingan
· Tepat waktu: perlu diperhatikan karena budaya indonesia yang cenderung “lelet”. Mereka sangat menghargai waktu. Patut diperhatikan jika membuat janji dengan orang Belanda.
· Sangat teratur: agenda selalu ada di tangan. Janji selalu ditepati.
· “Work hard play hard”: mereka sangat mengutamakan waktu luang saat weekend.
· Menghargai orang lain: hormat terhadap orang lain, respektif terhadap pekerjaan orang lain.
Berikut ini adalah beberapa kebiasaan menarik dari masyarakat Belanda dan Rotterdam khususnya:
· Menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama, baik di desa maupun di kota.
· Makanan umum dan sehari hari masyarakat Belanda adalah: “patat” (kentang goreng), roti isi, “stampot” (kentang mash dengan daging dan brokoli), aneka macam snack seperti pastel, risoles, frikandel. Dijamin kita bakal kangen berat dengan rendang dkk.
· Hampir semua masyarakat Belanda (utamanya dari generasi muda) dapat berbicara bahasa Inggris.
· Dosen dapat dipanggil dengan menggunakan nama depan. Tapi tentu saja tergantung bagaimana dosen itu ingin dipanggil.
· Ingin memulai percakapan dengan orang Belanda? Mulailah dengan topik tentang cuaca!
· Tidak ada senioritas dalam perkuliahan di Belanda, begitu juga dengan per-ploncoan.
Kita sebagai pelajar internasional, diharapkan juga dapat berintegrasi dengan budaya Belanda. Utamanya pada poin yang menyangkut ketepatan waktu. Orang Belanda bisa sangat terganggu jika kita tidak tepat waktu.
No comments:
Post a Comment